logo

logo
tumbuh subur tumbuh subur tunas-tunas pergerakan

Minggu, 16 Oktober 2011

sejarah pmii ciputat


Inisiatif Pendirian
PMII Ciputat lahir pada 20 Pebruari 1960. Di antara para pendirinya adalah Zamroni (alm), Prof.Dr. Chotibul Umam, Drs. Nadjid Mukhtar, MA., Drs. Muzakkir Djaelani, Drs. Zarkasih Noor, Imam Yamin, Ari Amnan, Lamingi Lamtamzid (alm), Abdurrahman K, Zuhdi Anwar, H. Rusli, Jamhari, dan Mahmudi (alm). Pemilihan Ciputat sebagai nama cabang dari organisasi PMII, bukan komisariat IAIN, didasarkan atas pertimbangan lokasi di mana kampus dan organisasi ini berada.
Saat itu, mahasiswa yang belajar di ADIA (cikal bakal IAIN) umumnya adalah mereka yang ditugaskan belajar dari daerahnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka adalah guru di madrasah (PGA) atau pegawai keagamaan. Latar belakang beragam, berasal dari seluruh penjuru Indonesia, dan kecenderungan paham keagamaan yang plural. Sebagian mereka berasal dari keluarga Nahdliyin dan banyak yang aktif di kegiatan Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU).
Sebelum PMII didirikan, para mahasiswa NU tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang didirikan pada Desember 1955 di Jakarta dan Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama yang didirikan di Surakarta oleh Mustahal Ahmad. Namun, secara resmi organisasi kemahasiswaan untuk kader-kader NU ditampung di bawah IPNU. Di dalam struktur IPNU, ada badan atau lembaga yang khusus menghimpun mahasiswa-mahasiswa NU. PMII secara resmi didirikan di Surabaya pada 17 April 1960. Organisasi inilah yang kemudian menghimpun mahasiswa-mahasiswa dari kalangan nahdliyin. Organisasi PMII berada di bawah struktur PBNU, seperti organisasi IPNU dan Anshar. Faktor-faktor didirikannya PMII adalah:
  1. Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
  2. Tidak menentunya sistem perundang-undangan dan dalam masa  pemerintahan yang panca roba pada saat itu
  3. Keluarnya NU dari Partai Masyumi.
  4. Tidak nyaman lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.
  5. Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang notabene HMI adalah underbouw-nya.
Setelah PMII didirikan, beberapa mahasiswa yang berlatar belakang IPNU dan NU berkumpul dan sepakat untuk merencanakan pendirian PMII Ciputat. Kemudian, mereka menyebarkan formulir anggota PMII secara door to door ke mahasiswa yang tinggal di perumahan komplek. Sebelumnya, formulir anggota HMI sudah lebih dulu beredar di kalangan mahasiswa. Para pendiri PMII termasuk yang mendapat formulir HMI, namun mereka menolak dan justru menyebar kembali formulir yang berbeda, yaitu anggota PMII.
Dari sejumlah formulir yang disebar, sebanyak 57 formulir kembali. Mereka yang mengisi formulir menyatakan bersedia menjadi anggota PMII. Sebagian mereka adalah mahasiswa baru dan adapula mahasiswa senior yang sudah berkeluarga.
Mereka yang menyerahkan formulir kemudian diundang dalam pertemuan Deklarasi PMII. Deklarasi dilakukan oleh Pengurus Pusat PMII yaitu Mahbub Junaidi, Kholid Mawardi, dan Fahrurrozi (ketua cabang Jakarta dan pengurus pusat), dan dihadiri oleh aparat kepolisian, onggota organisasi kemahasiswaan lain, dan unsur IAIN. Pertemuan dan deklarasi itu dilaksanakan di dalam kampus.
Setelah dideklarasikan, tim kemudian membentuk kepengurusan PMII Ciputat, yang terdiri dari ketua umum Imam Yamin, wakil ketua Chotibul Umam, Ari Amnan bendahara, Lamingi Lamtamzid sebagai sekretaris, Abdurrahman K (dari sulawesi) sebagai sekretaris, dan beberapa nama lain seperti Zuhdi Anwar, Mudzakir Jaelani, H. Rusli (imam tentara), Jamhari, Idris, sebagai pengurus. Adapun Zamroni yang saat itu menjabat sebagai ketua Dewan Mahasiswa IAIN Jakarta menduduki sebagai penasihat. Sahabat Zamroni sendiri yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Arab IAIN Jakarta adalah pendiri PMII Pusat pada 1960.
Alasan utama pendirian PMII adalah mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa dari kaum nahdhiyin ke dalam satu wadah organisasi. Cita-cita awal pendirian organisasi underbow NU ini bersifat idealis, meskipun kemudian berkembang tujuan pragmatis. Tujuan idealis berkenaan dengan penyebaran dan penguatan paham ahlus sunnah wal jamaah di perguruan tinggi, terutama IAIN Jakarta. Adapun tujuan pragmatis berkisar pada keterlibatan orang-orang dalam pengelolaan IAIN Jakarta. Melalui organisasi ini, orang-orang PMII diperjuangkan untuk bisa menjadi dosen, pejabat, dan pegawai di IAIN.
Pada periode pertama, sahabat Chotibul Umam diangkat sebagai ketua umum PMII Cabang Ciputat periode 1961–1962. Untuk periode 1962–1964, sahabat Choliluddin AS diangkat sebagai ketua umum dengan sekretaris umum Ibrahim AR dan bendahara Dedy Anwar. Periode awal kepengurusan PMII Ciputat ini semasa dengan kepengurusan sahabat Said Budairi dan Cholid Mawardi di PMII Cabang Jakarta.

Ibnu Taimiyah 56
Tujuan mengumpulkan mahasiswa berlatar belakang Nahdliyin dan mempertahankan tradisi keagamaan diwujudkan melalui kegiatan pembinaan anggota PMII. Program pembinaan anggota dilakukan secara rutin melalui kegiatan pertemuan mingguan dengan agenda utama pembacaan kitab barzanji dan tahlilan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi seputar ilmu pengetahuan, keorganisasian, dan wawasan lainnya. Untuk memperkuat silaturahim, kegiatan tersebut dilaksanakan secara bergilir dari rumah ke rumah sesama anggota PMII.
Selain tempat kegiatan yang berpindah-pindah, adapula tempat yang menjadi pusat kegiatan PMII. Rumah Ari Amnan (bendahara PMII periode awal) dijadikan tempat berkumpulnya pengurus dan anggota PMII. Ketika sahabat Amnan telah menyelesaikan studi, tempat ini terus dijadikan pusat kegiatan PMII. Rumah ini ditinggal penghuninya, karena harus mengabdi ke daerah asalnya. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi Sekretariat PMII Cabang Ciputat hingga sekarang.

Dari kecil hingga besar
PMII Cabang Ciputat berdiri mendahului organisasi lain, seperti HMI dan IMM Ciputat, meskipun dari sisi persiapan sebenarnya HMI lebih siap untuk mendeklarasikan. Setelah PMII dideklarasikan, barulah HMI didirikan sebelum akhirnya IMM Cabang Ciputat juga didirikan beberapa tahun kemudian.
Dari sisi keanggotaan, PMII lebih lambat dibanding organisasi yang lain. Beberapa mahasiswa IAIN telah menjadi anggota organisasi lain yang menginduk ke Cabang Jakarta. Bisa dibilang, PMII lahir di saat organisasi lain telah lebih awal merekrut anggota. Seperti halnya anggota PMII yang umumnya berlatar belakang Nahdliyin, anggota organisasi lain juga berlatar belakang keagamaan (dan juga politik), seperti Masyumi atau Muhammadiyah. Kelahiran organisasi berbasis NU ini sempat mengagetkan anggota organisasi lain.
Di awal berdirinya, PMII Ciputat konsen pada kegiatan pembinaan anggota masing-masing dan tidak ada ketegangan di antara mereka. Pihak kampus pun mempersilahkan organisasi mahasiswa hidup di kampus. Apalagi secara kuantitas, jumlah mahasiswa yang tidak aktif di organisasi kemahasiswaan lebih banyak ketimbang mahasiswa yang aktif. Mereka pada umumnya kurang tertatik dengan organisasi, karena mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang memang ditugaskan oleh daerah untuk belajar. Sedangkan mereka yang aktif di organisasi adalah mereka yang memang memiliki bakat dan kepedulian yang besat terhadap organisasi, selain bidang akademik.
Tatkala Sahabat Zamroni menjadi ketua Dewan Mahasiswa IAIN jakarta bisa dibilang tidak ada ketegangan antar-organisasi yang berarti. Ketegangan dan justru muncul ketika posisi Zamroni sebagai ketua dewan mahasiswa digantikan oleh Ahmad Mudzakir yang notabene berasal dari organisasi lain. Ketika itu, Mudzakir sering berpidato dan menyinggung NU yang secara politik memang berseberangan dengan Masyumi. Adanya propaganda yang saling menyudutkan di antara dua kubu yang berseberangan berakibat pada perusakan papan pengumuman.
Ketegangan itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial politik di aras nasional. Masyumi dan NU yang memiliki garis politik berbeda saling bersaing. PMII yang menjadi organisasi di bawah NU dan HMI yang berada di bawah Masyumi turut terpengaruh pada konstelasi politik nasional ini. Ketika Masyumi dibubarkan, HMI menjadi organisasi independen, sementara PMII tetap berada di bawah NU.
Meski Masyumi telah dibubarkan, tekanan terhadap organisasi PMII oleh organisasi underbow Masyumi terus berlanjut. Tekanan itu bersifat psikis (mental) dan fisik. Bahkan, pimpinan organisasi PMII sempat diamankan dari upaya tindakan kekerasan dari organisasi lain.
Di awal berdirinya, sebagaimana disebutkan, PMII hanya beranggotakan 57 orang, bahkan ada yang menyebut 7 orang (kemungkinan didasarkan pada inisiator yang berjumlah tujuh orang-red). Dalam tradisi NU, angka tujuh memang memiliki kandungan spiritual. Angka ini disebut di dalam Al-Qur'an kitab sucinya seluruh umat manusia. Hari berjumlah tujuh, langit juga tujuh, tradisi tahlilan juga memasukkan hari ketujuh, tradisi mitoni (syukuran kehamilan) dilaksanakan di bulan ketujuh, dan seorang anak telah diperintah untuk menjalankan shalat sejak berumur tujuh tahun. Itulah sakralitas angka tujuh di kalangan nahdhiyin.
Begitu juga dengan anggota tujuh orang yang memiliki makna tersendiri di kemudian hari yang berkenaan dengan kebesaran PMII Ciputat. Dari tujuh anggota ini membesar menjadi 17 orang,  40 orang, 57 orang, lalu meningkat menjadi 100 orang, dan bertambah menjadi 1000 orang. Begitulah seterusnya hingga tak tercatat sampai sekarang. Bukan tak terhitung, tapi tak tercatat, karena saking banyaknya anggota tetapi tidak teradministrasi dengan baik. Kita bisa menyebut jumlah 10.000 anggota, seperti ketika menyebut jamaah NU sebanyak 40 juta. Input anggota PMII mulai meningkat sejak tahun 1964 ketika banyak daerah yang menugaskan para kadernya belajar di IAIN Jakarta. Mahasiswa yang berasal dari daerah umumnya berlatar belakang NU sehingga lebih cocok untuk masuk di PMII ketimbang di organisasi lainnya.

Idealisme dan soliditas
Mahasiswa yang masuk PMII umumnya dilandasi semangat ke-NUan. Mereka merasa bahwa identitas NU harus dipertahankan, sebagaimana telah mereka pertahankan tatkala berada di daerah masing-masing. Identitas PMII berarti identitas NU dan identitas NU adalah identitas mereka. Wajarlah ketika mahasiswa yang masuk anggota PMII bangga dengan status organisasinya. Mereka tak canggung lagi bicara NU di berbagai forum dan kesempatan.
Idealisme yang tertanam dalam jiwa sangat kuat. Tekad mereka adalah mempertahankan tradisi ke-NU-an dan memperjuangkan kelompok yang tersingkir. Garis perjuangan tidak mudah digoyah oleh kepentingan lain. Di antara bukti idealisme yang tertanam adalah ketika kader-kader NU dihina oleh kelompok lain, maka secara spontan mereka melawan penghinaan itu. Bahkan di suatu saat, kader PMII mencoba mengklarifikasi kritikan tidak mendasar dari kelompok lain terhadap anggota dan senior PMII.
Idealisme yang mengakar mengokohkan soliditas di antara para anggota. Meski secara kuantitas termasuk minoritas, namun soliditas dan kekompakan para anggota PMII sangat terasa. Kader-kader sangat mudah untuk mengonsolidasi diri dalam berbagai kegiatan. Mereka secara suka rela terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh PMII. Persoalan dana yang biasa menghambat kelancaran organisasi tidak menjadi kendala berarti bagi lajunya roda organisasi PMII.

Kualitas Menonjol
Mahasiswa "sarungan" yang sering dianggap kolot dan tradisional ternyata mencapai puncak kesuksesan. Tidak sedikit mahasiswa PMII yang sukses di bidang akademik dan organisasi. Mereka menjadi yang terbaik di prestasi akademik dan menduduki jabatan puncak di organisasi internal kampus.
Sahabat Chotibul Umam dan Ahmad Rofii adalah contoh kader PMII Ciputat generasi awal yang sukses di bidang akademik. Keduanya adalah mahasiswa yang mendapat nilai akhir dengan predikat cumlaude di saat sistem pendidikan yang tidak memberi kemudahan untuk mencapai predikat tersebut dan tidak ada mahasiswa lain yang dapat mencapainya.
Kesuksesan lain di bidang organisasi ditunjukkan oleh kader PMII yang menduduki ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) IAIN Jakarta. Adalah sahabat Zamroni dan Ahmad Sukardja yang mampu meraih puncak kepemimpinan di organisasi internal kampus. Mereka mampu mengalahkan kader lain yang berlatar belakang organisasi yang berbeda. Meski minoritas, namun akseptabilitas kader PMII sangat besar di kalangan mahasiswa. Hal ini membuktikan kompetensi yang dimiliki kader PMII lebih kompleks sehingga mahasiswa menganggap kader PMII lebih layak untuk memimpin DEMA.

Melahirkan NU
Di saat PMII Ciputat berdiri, warga muslim Ciputat dan sekitarnya sebagian besar menganut aliran politik Masyumi. Bahkan, pandangan politik umat Islam saat itu umumnya berhaluan Masyumi, karena aliran politik lainnya tidak cocok, seperti PNI dan apalagi PKI. Meski beraliran politik Masyumi, umat Islam saat itu memiliki tradisi keagamaan yang beragam. Ada yang menganut ritual keagamaan ala NU, ala Muhammadiyah dan sebagainya.
Di tengah situasi ketimpangan antara pandangan politik dan kebutuhan ritual itulah kader-kader PMII hadir. Sebagian anggota PMII adalah mubaligh yang berdakwah ke kampung-kampung. Mereka mendakwahkan agama dan tradisi yang dianut oleh NU. Ternyata apa yang mereka praktikkan cocok dan sepaham dengan apa yang disampaikan oleh kader-kader PMII. Dan ternyata masyarakat juga mencari "ritual" yang sempat hilang dari pemikiran keagamaannya.
Dakwah NU membuahkan hasil. Masyarakat dengan inisiatifnya sendiri berkumpul dan mengikrarkan diri untuk meneruskan tradisi keagamaan yang selama ini telah mereka praktikkan. Pada tahap selanjutnya, organisasi-organisasi NU (dari tingkat ranting hingga cabang) didirikan. Dakwah NU dari anggota PMII Ciputat ini menjangkau hingga wilayah Parung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar